Memanfaatkan Terobosan Masa Depan untuk Semua Orang: Visi Rebeca Grynspan bagi revitalisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa .
Oleh. MYR Agung Sidayu Yayasan pendidikan Indonesia Special consultative status in ECOSOC United Nations since 2013.
Pendahuluan.
Di tengah era yang ditandai oleh lonjakan teknologi yang menakjubkan sekaligus tantangan global yang semakin mendesak, suara Rebeca Grynspan terdengar jernih dan penuh harapan. Ekonom Costa Rica, mantan wakil presiden, dan kandidat terdepan dalam perebutan jabatan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berikutnya ini menyampaikan visi yang menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pusat kerja sama multilateral. Dalam sebuah pernyataan yang tersebar luas dengan tagar #newUN, ia menegaskan:
“Ilmu pengetahuan dan teknologi membuka kemungkinan-kemungkinan luar biasa bagi umat manusia: kecerdasan buatan, energi terbarukan, serta peluang untuk mengalahkan penyakit-penyakit yang dulunya menimbulkan kehancuran. PBB harus menyediakan ruang ini agar setiap orang dapat menikmati peluang yang akan datang.”
Pernyataan ini bukan sekadar retorika kampanye. Ia mencerminkan pengalaman panjang Grynspan di persimpangan pembangunan, perdagangan, dan diplomasi internasional, sekaligus menjawab kekhawatiran sekaligus harapan masyarakat dunia yang sedang berlari menuju masa depan yang penuh ketidakpastian.
Sosok yang Dibentuk oleh Multilateralisme.
Rebeca Grynspan Mayufis, kini berusia 70 tahun, membawa kombinasi pengalaman yang jarang dimiliki. Lahir di San José dari orang tua Yahudi Polandia yang melarikan diri dari Eropa sebelum Perang Dunia II, ia meniti karier politik di Costa Rica hingga menjabat sebagai wakil presiden pada 1994–1998. Selanjutnya ia memegang posisi senior di Program Pembangunan PBB (UNDP), memimpin Sekretariat Jenderal Ibero-Amerika, dan sejak 2021 menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD).
Rekam jejaknya mencakup peran penting dalam negosiasi Inisiatif Biji-bijian Laut Hitam selama perang Ukraina, yang memungkinkan puluhan juta ton gandum mencapai pasar dunia dan mencegah krisis pangan yang lebih parah. Sebagai kepala UNCTAD, ia secara konsisten mendorong penutupan kesenjangan yang membuat negara-negara berkembang tertinggal dalam perdagangan, investasi, dan teknologi. Saat ini, setelah memimpin beberapa jajak pendapat informal Dewan Keamanan secara berturut-turut, ia berpeluang menjadi Sekretaris Jenderal PBB perempuan pertama sekaligus yang berlatar belakang Yahudi pertama dalam sejarah organisasi tersebut.
Kemungkinan Luar Biasa, Risiko yang Harus Dibagi Bersama Pernyataan Grynspan menyoroti tiga bidang transformasi besar. Kecerdasan buatan (AI) sedang mengubah ekonomi, pasar tenaga kerja, sistem pertahanan, dan arus informasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Energi terbarukan menawarkan jalan keluar dari krisis iklim, namun investasi masih jauh di bawah kebutuhan, ia pernah memperingatkan bahwa porsi belanja energi terbarukan harus mencapai sekitar 80 persen jika kita ingin mengatasi darurat iklim secara serius. Sementara itu, kemajuan bioteknologi dan kedokteran membuka peluang untuk mengalahkan penyakit-penyakit yang dulunya mematikan.
Namun peluang ini datang bersama ketimpangan yang tajam. Kaum muda dan perempuan khawatir tentang masa depan pekerjaan mereka di era otomatisasi. Negara-negara berkembang berisiko terkunci di luar rantai nilai AI dan rantai pasokan energi bersih.
Kesenjangan digital bisa semakin melebar, bukan menyempit. Grynspan sendiri menekankan bahwa pertanyaan utamanya adalah apakah peluang-peluang ini akan tersedia bagi kita semua. Di sinilah peran PBB menjadi krusial. Menurut Grynspan, organisasi ini harus secara aktif menciptakan ruang kerja sama agar manfaat teknologi dapat dinikmati secara merata. Artinya, melibatkan para inovator sektor swasta yang berada di garis depan perubahan, mempercepat penyebaran teknologi agar kaum muda, komunitas, dan pemerintah di Global South dapat berpartisipasi, serta merancang prinsip inklusi sejak awal dalam aturan ekonomi digital dan hijau yang baru—bukan sekadar berharap pada efek “tetesan ke bawah”.
“PBB Baru” di Era Percepatan Perubahan.
Tagar #newUN mencerminkan platform yang lebih luas tentang pembaruan kelembagaan. Grynspan secara terbuka mengkritik kelemahan organisasi. Dalam wawancara-wawancara terakhir, ia menyatakan bahwa PBB telah menjadi terlalu menghindari risiko, tersisih dalam konflik-konflik besar, dan dibebani oleh duplikasi serta ketidakpastian keuangan. Ia menyerukan organisasi yang lebih proaktif, bersedia menanggung biaya politik dari upaya mediasi yang gagal dan mencoba lagi, diplomasi yang lebih tenang ketika kekuatan besar saling berhadapan, serta lembaga yang lebih ramping dan fokus—melakukan “lebih sedikit dengan sumber daya yang lebih terbatas” namun berkonsentrasi pada kekuatan intinya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi menempati posisi sentral dalam agenda pembaruan ini. PBB sudah memiliki forum-forum penting tentang tata kelola AI, iklim, dan kesehatan. Di bawah kepemimpinan Grynspan, upaya-upaya tersebut akan ditingkatkan: memastikan negara-negara berkembang memiliki kursi yang nyata ketika norma-norma global AI disusun; menggerakkan pembiayaan dan transfer teknologi untuk energi terbarukan di Global South; serta mengoordinasikan penelitian dan akses yang adil terhadap terobosan medis. Pengalamannya di UNCTAD—mendorong aturan perdagangan yang lebih adil, keringanan utang, dan investasi dalam kapasitas produktif—memberinya alat konkret untuk mengubah aspirasi menjadi kebijakan.
Mengapa Visi Ini Penting Saat Ini.
Dunia tahun 2026 ditandai oleh rivalitas geopolitik, urgensi iklim, dan disrupsi teknologi yang cepat. Persaingan antarnegara besar telah melemahkan multilateralisme tradisional. Dampak perubahan iklim semakin intens. AI berkembang lebih cepat daripada kerangka regulasi yang ada. Dalam kondisi seperti ini, PBB yang sekadar defensif atau birokratis akan kesulitan mempertahankan relevansinya. Pesan Grynspan jelas: lembaga ini harus menyongsong masa depan, bukan sekadar mengelola masa kini.
Dengan membingkai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai peluang yang menuntut kerja sama global yang disengaja, ia menawarkan narasi yang positif dan berorientasi ke depan di saat banyak warga merasa kewalahan oleh perubahan. Ia menekankan bahwa tidak ada negara—besar maupun kecil—yang boleh tertinggal, dan bahwa legitimasi unik PBB sebagai forum universal menjadikannya tempat yang paling tepat untuk menegosiasikan aturan era baru ini.
Penutup.
Apakah ia akhirnya mendapatkan rekomendasi Dewan Keamanan (yang membutuhkan setidaknya sembilan suara mendukung dan tanpa veto dari lima anggota tetap) masih akan ditentukan dalam minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang. Kandidat baru masih bisa masuk, dan oposisi dari satu atau lebih kekuatan veto telah muncul dalam jajak pendapat terbaru. Namun kepemimpinannya yang konsisten dan substansi pesannya telah membentuk percakapan global.
Dengan menyerukan agar PBB menjadi ruang di mana kemungkinan-kemungkinan ilmiah dan teknologi terbesar umat manusia tersedia bagi semua orang, Rebeca Grynspan tidak sekadar berkampanye untuk sebuah jabatan. Ia merumuskan peran organisasi yang sepadan dengan skala tantangan—dan peluang—abad ke-21. “PBB baru” dalam pandangannya akan lebih berani mengambil risiko, lebih fokus, dan secara sadar inklusif terhadap kekuatan-kekuatan transformasi yang sudah mengubah dunia kita.
Sebagai alumni UNEM CostaRica, dan sebagai chairman Yayasan pendidikan Indonesia, penulis sejak awal pencalonannya telah mendukung Rebeca Grynspan dalam pencalonannya sebagai Kandidat Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa, dengan alasan utama bahwa PBB dalam situasi dunia yang syarat dengan berbagai muskilah ini membutuhkan seorang wanita sebagai pemimpinnya.
#UnitedNations#ECOSOC#UNCTAD#CostaRica#RGrynspan Memanfaatkan Terobosan Masa Depan untuk Semua Orang: Visi Rebeca Grynspan bagi revitalisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa . Oleh.MYR Agung SidayuYayasan pendidikan IndonesiaSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013. Pendahuluan. Di tengah era yang ditandai...
Kekuatan Cara Pandang: Bagaimana Mengubah Sikap Bisa Mengubah Masa Depan kita. Oleh.MYR Agung SidayuYayasan pendidikan IndonesiaSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013. Pendahuluan . “Penemuan terbesar sepanjang masa adalah bahwa seseorang bisa mengubah...
Pemimpin Sejati: Mengambil Lebih Banyak Kesalahan, Membagi Lebih Sedikit Pujian Oleh.MYR Agung SidayuPembina Yayasan Pesantren Indonesia – Alzaytun Pendahuluan. Ada sebuah kutipan yang sederhana tapi tajam tentang kepemimpinan: “A good leader is a person...
#jokowi#prabowosubianto#megawatisoekarnoputri#sby Dinasti Politik di Indonesia: Bukan Hanya Soal Jokowi, Ini Hak Demokrasi Semua Warga Oleh.MYR Agung SidayuYayasan pendidikan IndonesiaSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013 Pendahuluan. Bayangkan sebuah negara di mana hanya orang...
Analisis Peluang Gibran Rakabuming Raka dalam Bursa Calon Presiden 2029: Perspektif Konstitusional, Kapabilitas, dan Dinamika Politik. Oleh.MYR Agung SidayuYayasan pendidikan IndonesiaSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013. Abstrak. Artikel ini menganalisis peluang Wakil...
#UnitedNations#SyahgandaNainggolan Tepi Ketajaman Perpecahan: Bagaimana Ujaran Beracun Memicu Polarisasi—dan Mengapa Lembaga Global Membunyikan Alarm Oleh.MYR Agung SidayuSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2023. Di era konektivitas yang tiada henti, masyarakat di seluruh dunia...
Mari Kita Hentikan Ujaran Kebencian dan Selalu Menjaga Kebersamaan: Indonesia Akan Berkembang Jauh Lebih Baik Jika Kita Bersatu Oleh.MYR Agung SidayuSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013. Ada sahabat dari Pakistan yang minggu...
Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia: Pemenuhan Hak Anak dan Wanita atas Makanan Bergizi serta Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Oleh.MYR Agung SidayuSpecial Consultative Status in ECOSOCUnited Nations since 2013 Masukan kepada Kantor Komisaris Tinggi Perserikatan...
Free Nutritious Meal Program in Indonesia: Fulfilling the Rights of Children and Women to Nutritious Food and Advancing People’s Economic Empowerment. By.MYR Agung SidayuSpecial consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013 Submission to the...
UTS College – #UTSCollegeAustralian Parliamentary LibraryAustralian Government #AustralianGovermentMahkamah Konstitusi Republik IndonesiaKementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Shadows over a Vice President’s Credentials: Why UTS Still Holds the Missing Piece in Gibran’s Education Controversy ByMYR Agung...