Orasi Panik dan Aroma Kepanikan

Orasi Panik dan Aroma Kepanikan di Balik Kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis

Oleh:
Iskandar Saefullah
Ketua yayasan pesantren Indonesia – Alzaytun

Pendahuluan

Dalam dinamika kehidupan berbangsa yang semakin menekankan transparansi dan akuntabilitas, muncul kembali suara-suara yang sarat emosi dan sindiran pedas. Baru-baru ini, melalui juru bicaranya, Latief WH, Panji Gumilang kembali melontarkan kritik tajam terhadap berbagai pihak yang mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Gaya orasi yang penuh pujian berlebihan kepada sekutunya, diiringi fitnah dan tuduhan kepada pihak lain, semakin menunjukkan pola yang sudah dikenal.

Sebagai lembaga pendidikan yang didirikan atas kepercayaan masyarakat luas, Pondok Pesantren Al-Zaytun seharusnya menjadi teladan dalam pengelolaan amanah. Namun, respons histeris terhadap program MBG justru mengundang pertanyaan mendalam: apakah yang diperjuangkan adalah kepentingan rakyat, atau lebih kepada kekhawatiran akan hilangnya dominasi dan sumber penghidupan yang selama ini dinikmati?

Kepanikan yang Terlihat Jelas.

Semakin keras suara Latief WH, semakin terasa aroma kepanikan yang menyertainya. Pujian setinggi langit kepada “program” mereka, diikuti serangan bertubi-tubi terhadap perguruan atau individu yang berani menuntut transparansi, merupakan pola klasik ketika argumentasi substantif mulai menipis. Ironisnya, lembaga yang memberikan tempat dan kesempatan serta kehormatan untuk dirinya oleh komunitas dn msyarakat, kini justru menjadi tameng untuk melakukan cemoohan, padahal yang kami uap ayakan dengan semua upaya revitalisasi hanyalah kejujuran dalam mengelola dana masyarakat.

Program MBG merupakan inisiatif pemerintah untuk meningkatkan gizi anak bangsa secara luas dan transparan. Bukan rahasia lagi bahwa Al-Zaytun sempat mengajukan diri sebagai peserta setelah sebelumnya menyampaikan pandangan kritis. Perubahan sikap ini wajar menimbulkan pertanyaan di kalangan yayasan pesantren lain yang telah lama menjaga rekam jejak baik. Surat-surat terbuka yang menuntut agar proposal mereka dievaluasi ulang, terutama terkait isu pengelolaan dana BOS di masa lalu, semakin memperkuat perlunya kehati-hatian.

Kritik yang Dibutuhkan, Bukan Kebencian.

Tidak ada yang salah dengan rasa khawatir. Setiap pengelola lembaga pasti cemas ketika ada program baru yang membawa standar transparansi lebih tinggi. Namun, kekhawatiran itu seharusnya tidak dibalut dengan ujaran kebencian, fitnah massal, atau narasi lama yang diputar ulang. Rakyat Indonesia semakin cerdas dan mampu membedakan mana kepentingan pribadi dan mana kepentingan umum.

Al-Zaytun memiliki potensi besar sebagai lembaga pendidikan. Banyak pihak yang berharap agar fokus kembali pada peningkatan kualitas pendidikan, transparansi keuangan, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku, termasuk dalam konteks program pemerintah seperti MBG. Manipulasi dana atau praktik yang kurang transparan hanya akan merusak kepercayaan publik yang selama ini dibangun dengan susah payah.

Menuju Transparansi yang Lebih Baik.

Angin perubahan saat ini memang berhembus kencang menuju tata kelola yang lebih baik. Program MBG bukan sekadar distribusi makanan, melainkan simbol komitmen negara untuk membangun generasi sehat dengan pengawasan ketat agar dana publik tidak disalahgunakan. Bagi siapa pun yang merasa terancam, lebih bijak untuk melakukan introspeksi dan perbaikan internal daripada melampiaskan kepanikan melalui orasi yang memecah belah.

Kita semua berharap Al-Zaytun dapat kembali menjadi aset bangsa yang membanggakan. Untuk itu, diperlukan keberanian untuk menerima kritik konstruktif, menjaga amanah, dan meletakkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Hanya dengan cara itu, kepercayaan masyarakat dapat pulih, dan kontribusi nyata bagi pendidikan Indonesia dapat terus diberikan.

Semoga dinamika ini menjadi momentum perbaikan, bukan justru memperdalam perpecahan. Rakyat menanti teladan, bukan drama berkepanjangan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *