Ketika Sosok Ulama Bersanding dengan Ujaran Kebencian
Oleh: Rudi Hartono
Bendahara Yayasan Pesantren Indonesia

Dalam sejarah Islam, ulama adalah penerus cahaya ilmu yang menerangi kegelapan. Mereka adalah pewaris Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang tugas utamanya adalah menuntun umat menuju kebaikan, kasih sayang, dan keadilan. Namun, di era media sosial yang serba cepat ini, kita sering menyaksikan paradoks yang menyayat hati: sosok yang mengenakan sorban dan jubah, yang biasa berceramah di mimbar masjid, justru menjadi corong ujaran kebencian yang membakar emosi massa.
Bagaimana bisa seorang yang belajar bertahun-tahun di pesantren, yang hafal ribuan hadits tentang rahmat, malah memilih kata-kata yang menyemai permusuhan? Pertanyaan ini bukan sekadar kritik, melainkan panggilan introspeksi bagi seluruh ekosistem keagamaan kita.
Saya ingat, di pesantren tempat saya tumbuh, kyai kami selalu mengulang kalimat yang sama: “Ilmu tanpa akhlak adalah racun. Akhlak tanpa ilmu adalah gelap.” Ujaran kebencian adalah racun itu sendiri. Ia meracuni hati pendengar, merusak ukhuwah, dan pada akhirnya merusak citra Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Ketika seorang ulama menyebut kelompok lain dengan label “kafir”, “sesat”, atau bahkan “musuh Allah” hanya karena perbedaan politik atau pandangan, ia seolah lupa bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim).
Di Indonesia yang majemuk ini, bahaya ujaran kebencian bukan lagi teori. Ia telah memecah keluarga, memutus silaturahmi, bahkan memicu konflik horizontal di masyarakat. Saya pernah menyaksikan santri-santri kami yang pulang kampung menjadi bingung karena mendengar ceramah yang justru mengajak membenci saudara sebangsa.
Padahal, di pesantren kami mengajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat. Sunnah dan Syiah, NU dan Muhammadiyah, bahkan Muslim dan non-Muslim, semuanya hidup di bawah naungan Pancasila dan UUD 1945.
Sebagai bendahara Yayasan Pesantren Indonesia, saya melihat langsung bagaimana dana umat yang seharusnya digunakan untuk membangun asrama, perpustakaan, dan beasiswa, terkadang harus dialihkan untuk “damai-damai” setelah ada ulama yang memprovokasi.
Ironis. Uang yang seharusnya untuk mendidik akhlak mulia, malah dipakai membersihkan puing-puing kebencian.
Kepada para ulama yang terhormat, izinkan saya menyampaikan dengan penuh hormat: kekuasaan mimbar adalah amanah, bukan senjata. Pengaruh Anda luar biasa besar. Satu kata dari Anda bisa menyatukan ribuan hati, atau memecah belah ribuan keluarga.
Pilihlah yang pertama. Jadilah seperti Imam Syafi’i yang meski berbeda pandangan dengan Imam Malik, tetap saling menghormati. Atau seperti Buya Hamka yang tegas dalam akidah, tetapi lembut dalam pergaulan.
Kepada umat, saya ajak: jangan mudah terprovokasi. Saringlah setiap ceramah. Tanyakan: apakah kata-kata ini mendekatkan kepada Allah atau hanya mendekatkan kepada hasrat politik sesaat? Apakah ini ilmu atau hanya emosi yang dibungkus dalil? Ulama sejati tidak butuh like dan share. Ia butuh ridha Allah.
Yayasan Pesantren Indonesia terus berkomitmen mendidik generasi ulama yang berilmu, berakhlak, dan berwawasan kebangsaan. Kami percaya, Indonesia yang damai hanya bisa dibangun oleh ulama yang menjadi obor perdamaian, bukan obor pembakaran.
Semoga Allah menjaga hati para ulama kita agar selalu dipenuhi rahmat, bukan dendam. Karena ketika ulama menjadi sumber kebencian, umat yang paling menderita.
Wallahu a’lam bish-shawab.
