Sense of Communication

Sense of Communication: Kekuatan Tersembunyi yang Menentukan Nasib Pemimpin dan Organisasi di Era 2020-an

Oleh.
MYR Agung Sidayu
Yayasan pendidikan Indonesia
Special consultative status in ECOSOC
United Nations since 2013,

Screenshot

Pendahuluan.

Ditengah hingar bingar karena tindakan penyadapan terhadap Kepala Negara, penulis senang karena Presiden Prabowo bertindak cepat untuk menyelesaikan masalah walau harus mengorbankan beberapa jenderal polisi, bahkan jenderal Lystyo Sigit yang setelah purna tugas sebagai Kapolri diangkat menjadi KSP. Kita semua tidak tahu apa motivasi para jenderal tersebut diatas, apakah sepenuhnya bermotive politik atau yang lain, yang jelas itu semua sudah terjadi bahkan sejak 2025 – 2026. Sementara penulis berpendapat itu semua karena lemah nya sense of communication.

Bayangkan sebuah organisasi seperti kapal besar yang sedang berlayar di lautan penuh badai: perubahan teknologi yang cepat, ketidakpastian ekonomi, konflik geopolitik, dan ekspektasi karyawan yang semakin tinggi. Kapten kapal—pemimpin—bisa memiliki peta terbaik, mesin paling canggih, dan kru paling berbakat. Namun tanpa kemampuan mengomunikasikan arah, alasan, dan semangat dengan jelas, kapal itu akan berputar-putar – mbelok aja kata orang Betawi – kru saling menyalahkan, dan akhirnya kandas. Itulah mengapa sense of communication—kepekaan dan keterampilan berkomunikasi—bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi yang menggandakan dampak setiap keputusan, strategi, dan visi.

Pemimpin modern tidak lagi sekadar memerintah lewat hierarki. Mereka memimpin lewat pengaruh. Dan pengaruh itu lahir dari kemampuan menyelaraskan orang di sekitar tujuan bersama, membangun kepercayaan, mendorong eksekusi, mengelola konflik, serta membentuk budaya. Tanpa komunikasi yang kuat, bahkan strategi paling brilian pun gagal diterjemahkan menjadi hasil nyata.

Mengapa Komunikasi Menjadi Inti Segala Hal.

Komunikasi yang jelas mengubah niat pribadi menjadi gerakan kolektif. Ketika pemimpin mampu menjelaskan tujuan, prioritas, dan terutama “mengapa” di balik setiap keputusan, anggota tim mendapat konteks untuk bertindak secara mandiri namun tetap selaras. Sebaliknya, pesan yang kabur atau tidak konsisten memicu kebingungan, kerja tumpang tindih, dan rasa tidak terlibat.

Kepercayaan tumbuh dari transparansi dan kemampuan mendengarkan. Orang mengikuti pemimpin yang mereka rasa menghormati mereka. Empati, umpan balik jujur, dan keterbukaan menciptakan rasa aman psikologis—kondisi di mana orang berani menyampaikan risiko, ide setengah matang, atau bahkan berita buruk sebelum masalah membesar.

Motivasi muncul dari makna. Cerita yang menyentuh, pengakuan yang tulus, dan cara membingkai tantangan sebagai kontribusi bersama mampu menggerakkan usaha lebih dari sekadar kewajiban. Komunikasi buruk mengubah pekerjaan menjadi sekadar kepatuhan; komunikasi mahir menghubungkan kerja individu dengan dampak yang lebih besar.

Eksekusi bergantung pada dialog. Pemimpin yang piawai bertanya mengumpulkan informasi lebih akurat, mengungkap hambatan lebih dini, dan memastikan keputusan mengalir tanpa distorsi. Dalam manajemen perubahan dan konflik, komunikasi yang empatik dan konstruktif mengurangi resistensi serta mempercepat adopsi. Pada akhirnya, budaya organisasi terbentuk dari apa yang dikatakan pemimpin, bagaimana mereka mengatakannya, dan apakah tindakan mereka selaras dengan kata-kata.

Pemimpin efektif mengembangkan lebih dari sekadar kemampuan berbicara yang mengesankan. Mereka menguasai kejelasan di tengah kompleksitas, mendengarkan aktif, kecerdasan emosional untuk membaca situasi, kelancaran di berbagai saluran (tatap muka, digital, tertulis), pertimbangan timing, serta kebiasaan menutup lingkaran umpan balik agar orang merasa didengar.

Contoh Terkini yang Membuktikan Kekuatan Komunikasi.

Data terbaru menunjukkan betapa krusialnya hal ini. Menurut indikator Gallup per Agustus 2026, hanya 16 persen karyawan di Amerika Serikat yang sangat setuju bahwa kepemimpinan organisasi mereka berkomunikasi secara efektif dengan seluruh perusahaan. Padahal, karyawan yang merasakan komunikasi kepemimpinan yang baik 61 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami burnout. Ketika pemimpin berhasil membuat orang antusias tentang masa depan, tingkat engagement bisa mencapai 69 persen; sebaliknya, hampir nol.

Lihat Satya Nadella di Microsoft. Sejak memimpin, ia mengubah budaya perusahaan yang sebelumnya dikenal kompetitif dan saling sikut menjadi lebih empatik dan berorientasi “learn-it-all”. Ia memodelkan mendengarkan dan kerendahan hati. Bahkan pada 2026, Nadella masih menyesuaikan struktur komunikasi perusahaan agar lebih autentik—memindahkan fungsi komunikasi ke bawah kepemimpinan yang dianggap mampu menyampaikan ide kompleks dengan kejelasan dan kepercayaan, serta mendorong karyawan yang dekat dengan produk untuk menjadi bagian dari suara publik perusahaan. Responsnya terhadap kritik atau komentar tajam sering kali terukur, optimis, dan mengalihkan fokus ke pembelajaran serta kolaborasi, bukan konfrontasi.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memberikan contoh komunikasi krisis yang luar biasa efektif. Melalui video singkat harian yang autentik, pidato yang disesuaikan dengan audiens internasional (mengacu pada sejarah dan nilai bersama negara tujuan), serta pesan yang langsung dan bermakna, ia berhasil mempertahankan moral rakyat, membangun dukungan global, dan mendominasi narasi informasi di tengah perang yang berkepanjangan. Komunikasi baginya bukan sekadar penyampaian informasi, melainkan alat perlawanan dan mobilisasi.

Jensen Huang, CEO NVIDIA, menunjukkan kekuatan storytelling dalam menjelaskan teknologi kompleks. Di berbagai forum global, termasuk World Economic Forum dan konferensi teknologi 2025–2026, ia sering menggunakan metafora sederhana dan cerita nyata—misalnya bagaimana AI justru meningkatkan jumlah pekerjaan di bidang radiologi—untuk membuat dampak AI terasa konkret dan bermakna, bukan sekadar statistik abstrak. Pendekatan ini membantu menyelaraskan visi perusahaan dengan pemahaman publik dan investor.

Di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2026 secara eksplisit menekankan pentingnya komunikasi pemerintah yang sederhana, dialogis, dan dua arah. Ia memanggil pimpinan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Naingolan dan menginstruksikan agar pesan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak hanya memberitahu apa yang dikerjakan, tetapi menjelaskan arah dan pemikiran di balik kebijakan. Ia juga menekankan pentingnya mendengarkan keluhan dan aspirasi masyarakat hingga ke tingkat paling bawah, lalu meneruskannya ke tingkat tertinggi. Upaya ini mencerminkan kesadaran bahwa komunikasi satu arah sudah tidak memadai di era partisipasi publik yang tinggi.

Sebagai kontras, gaya komunikasi Elon Musk yang sangat langsung dan tidak tersaring melalui platform X mampu menciptakan momentum dan mobilisasi visi besar, namun juga sering memicu gejolak dan polarisasi. Ini mengingatkan bahwa volume dan kecepatan komunikasi belum tentu efektif tanpa pertimbangan konteks, audiens, dan dampak emosional.

Biaya Komunikasi yang Lemah dan Hikmah Abadi.

Pemimpin yang lemah dalam komunikasi cenderung menghasilkan tim yang tidak selaras, sumber daya terbuang, kepercayaan terkikis, turnover tinggi, konflik yang membesar, resistensi terhadap perubahan, serta inovasi yang mati karena orang enggan berbagi ide atau berita buruk.

Di sinilah peribahasa Arab klasik menemukan relevansi yang sangat kuat di era kebisingan informasi: خير الكلام ما قل ودل.
Sebaik-baiknya perkataan adalah yang sedikit (ringkas) namun menunjukkan (makna dengan jelas dan tepat). Bukan berbicara sebanyak mungkin, melainkan menyampaikan inti dengan presisi, menghormati waktu dan kecerdasan pendengar, serta memastikan pesan menembus dan menggerakkan. Di tengah banjir informasi dan perhatian yang terfragmentasi, prinsip ini menjadi keunggulan kompetitif yang langka.

Kesimpulan.

Pada akhirnya, sense of communication yang kuat menggandakan dampak seorang pemimpin. Ia mengubah kemampuan individu menjadi kinerja kolektif. Pemimpin yang berinvestasi sama besarnya dalam mendengarkan seperti dalam berbicara, yang menyesuaikan pesan dengan audiens dan momen, serta yang memperlakukan komunikasi sebagai tanggung jawab inti—bukan sekadar keterampilan lunak—secara konsisten mengungguli mereka yang tidak melakukannya.

Setelah kejadian yang memprihatinkan diatas, Presiden Prabowo Subianto sudah waktunya untuk mengganti seluruh pembantunya yang dianggap tidak kompeten, walau baru lebuh dari satu bulan diangkat, termasuk didalamnya mereka yang sudah menduduki posisi strategis. Jika tidak maka kedepan akan terjadi sesuatu yang lebih besar, dan penulis yakin presiden Prabowo Subianto mampu.

Di dunia yang semakin kompleks, cepat berubah, dan penuh ketidakpastian, organisasi yang bertahan dan berkembang jarang dipimpin oleh mereka yang paling keras suaranya. Mereka dipimpin oleh orang-orang yang membuat jalur terlihat jelas, tujuan terasa bersama, percakapan menjadi nyata, dan setiap kata membawa makna. Karena pada akhirnya, kepemimpinan sejati bukan tentang seberapa banyak yang kita katakan, melainkan seberapa dalam yang kita sampaikan dan seberapa kuat yang kita gerakkan.

You may also like...