Masa depan perjanjian

Masa Depan Perjanjian Damai yang Ditandatangani oleh USA dan Iran, Harus Dijaga oleh Penandatangan Perjanjian Tersebut
Oleh
Yayasan Pendidikan Indonesia
Special consultative status in ECOSOC
United Nations since 2013.
Perjanjian damai berupa Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad antara Amerika Serikat (USA) dan Iran yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 merupakan langkah penting untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung. MoU ini mencakup penghentian operasi militer permanen di semua front termasuk #Lebanon, pembukaan Selat #Hormuz untuk pelayaran komersial tanpa tol selama 60 hari, penghapusan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, serta kerangka negosiasi lanjutan selama 60 hari mengenai program nuklir, sanksi, dan dana rekonstruksi hingga US$300 miliar.
Namun, kondisi aktual pertemuan lanjutan di #Bürgenstock, Swiss, pada 21 Juni 2026 menunjukkan betapa rapuhnya perjanjian ini. Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menolak jabat tangan simbolis serta sesi foto bersama dengan pihak AS yang telah diatur. Mereka bahkan menangguhkan atau keluar dari ruang perundingan setelah sekitar 80 menit untuk konsultasi internal. Langkah ini mencerminkan sikap tegas Iran dalam menjaga kedaulatan dan menolak simbol-simbol yang dianggap merendahkan.
Yang paling memperkeruh suasana dan kepercayaan yang baru tumbuh adalah ancaman dan sindiran berulang dari Presiden #DonaldTrump serta sikap keras Menteri Luar Negeri #MarcoRubio. Tepat saat perundingan berlangsung, Trump menyatakan di media sosial: “Iran must immediately stop their highly paid PROXIES in Lebanon from causing trouble. If they don’t, we’ll hit Iran very hard again, just like we did last week, only harder!!!” Ia juga mengancam akan memungut tol di Selat Hormuz oleh AS setelah 60 hari jika kesepakatan akhir tidak tercapai, serta menyebut Iran “better watch his mouth”. Ancaman ini langsung dikaitkan Iran sebagai pelanggaran semangat MoU yang melarang ancaman atau penggunaan kekuatan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio secara konsisten menegaskan bahwa relief sanksi apa pun harus bersyarat ketat dan hanya diberikan jika Iran menyerahkan uranium yang diperkaya serta menyerah sepenuhnya dari program nuklir militernya. Rubio menolak relief sanksi hanya untuk membuka Hormuz, dengan menyatakan bahwa segala keringanan harus terkait langsung dengan denuklirisasi. Pernyataan-pernyataan ini, yang muncul berulang kali, menciptakan ketidakpercayaan di pihak Iran dan memaksa penangguhan sesi perundingan.
Yayasan Pendidikan Indonesia menekankan bahwa perdamaian sejati memerlukan kesabaran, konsistensi, dan penghormatan terhadap komitmen bersama. Ancaman dan sindiran berulang dari Trump serta posisi Rubio yang keras berisiko merusak kerangka gencatan senjata yang baru terbangun. Para penandatangan memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk menahan diri dari provokasi yang dapat memicu eskalasi baru, terutama di Lebanon dan Selat Hormuz.
Negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (#OIC) perlu menyikapi perjanjian perdamaian yang amat fragile ini dengan inisiatif positif. Mereka seharusnya mengambil peran aktif yang mengarah pada keberpihakan kepada Iran sebagai sesama negara dengan penduduk mayoritas Muslim, sambil mengesampingkan ambisi pribadi, regime, dan polarisasi ideologis yang sudah usang. Dukungan diplomatik, mediasi, serta dorongan untuk implementasi MoU secara adil akan sangat berarti bagi stabilitas kawasan.
Yayasan pendidikan Indonesia menghimbau agar Presiden #PrabowoSubianto terus berupaya mewujudkan perdamaian dunia, khususnya perdamaian antara Amerika dan Iran, sebagaimana yang telah beliau nyatakan sejak awal eskalasi. Bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim layak menyadari bahwa perdamaian ini harus tuntas dan sustain.
Jika tidak, Indonesia akan mengalami kesulitan ekonomi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan analisa para ahli dan demonstrasi para mahasiswa. Ketenteraman nasional sangat bergantung pada ketenteraman dunia, dan ketenteraman dunia sangat bergantung pada keberlanjutan perdamaian antara Amerika dengan Iran.
Saat ini adalah waktu yang tepat bagi Presiden Prabowo Subianto untuk mengimplementasikan apa yang Yayasan Pendidikan Indonesia usulkan, yakni PRABOWO INITIATIVES. Jika pendahulu kita #PresidenSukarno dan #PresidenSuharto bisa melakukan sesuatu demi kedamaian dunia dalam kondisi yang amat sederhana, mengapa kita tidak bisa di era di mana perkembangan teknologi informasi sudah melampaui kecerdasan manusia?
Yayasan Pendidikan Indonesia mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk komunitas internasional dan negara-negara #OIC, untuk mendukung upaya diplomasi yang berbasis dialog dan penghormatan kedaulatan.
Perdamaian bukanlah hadiah, melainkan hasil kerja keras yang harus dijaga setiap hari. Mari akal sehat dan tanggung jawab mengalahkan ancaman serta sindiran yang kontraproduktif.
