{"id":47,"date":"2026-06-13T03:18:22","date_gmt":"2026-06-13T03:18:22","guid":{"rendered":"https:\/\/ypindonesia.org\/?p=47"},"modified":"2026-06-13T03:18:33","modified_gmt":"2026-06-13T03:18:33","slug":"di-balik-retorika-kebencian-dan-kemunafikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ypindonesia.org\/?p=47","title":{"rendered":"Di Balik Retorika Kebencian dan Kemunafikan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Balik Retorika Kebencian dan Kemunafikan \u2013 Pelajaran tentang Amanah, Integritas, dan Tanggung Jawab Hukum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh.<br>Datuk Iskandar Saefullah<br>Ketua Yayasan Pesantren Indonesia- Alzaytun<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendahuluan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam beberapa waktu terakhir, publik disuguhi serangkaian tulisan dan kartun satir dari akun Latif WH yang penuh sindiran tajam terhadap \u201cYayasan Kebon Kosong\u201d, \u201cAseng Mathasivid\u201d, \u201cRudolfo\u201d, serta pidato-pidato \u201cheroik demi piring nasi\u201d atau \u201ckursi komisaris\u201d. Ungkapan-ungkapan tersebut, yang dibungkus dengan bahasa filosofis tentang pengkhianatan, oportunisme, dan perubahan sikap demi kepentingan, sesungguhnya merupakan ujaran kebencian yang sistematis ditujukan kepada pengurus dan exponen Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) \u2014 pemilik sah Pondok Pesantren Al-Zaytun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yayasan Pesantren Indonesia telah melakukan upaya pelurusan amanah umat agar pengelolaan pesantren tidak terus dimanipulasi untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Alih-alih menerima koreksi tersebut dengan lapang dada, pihak yang merasa terusik justru mengerahkan stafnya, termasuk Latif WH, untuk melancarkan serangan balik berupa fitnah, sarkasme, dan kampanye hitam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persoalan Hukum yang Tak Kunjung Selesai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Layaknya pemangku pondok pesantren besar seperti Al-Zaytun, seharusnya sosok pemimpinnya adalah orang yang menenteramkan umat, membangun kepercayaan, dan menjadi teladan akhlak serta kedamaian \u2014 bukan sosok yang selalu membuat gaduh dengan berbagai perilaku kontroversialnya.<br>Catatan hitam panjang kasus hukum yang melingkupi Panji Gumilang mencerminkan pola yang berulang:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Pertama, keterlibatannya dengan gerakan Negara Islam Indonesia (NII) yang pernah menggoncangkan tanah air. Kemudian muncul laporan dari sosok yang selalu disebutnya sebagai \u201cpenghianat Judas Iscariot\u201d (kini, dalam keputusasaannya, justru diajak bergabung kembali). Ia pernah dihukum penjara karena pemalsuan tanda tangan dan dokumen yayasan.<\/li>\n\n\n\n<li>Kedua, dihukum penjara karena penistaan agama. Sesuatu yang seharusnya bisa dihindari, karena apa yang diucapkannya disebutkan sebagai pendapat ulama terdahulu ratusan tahun silam. Namun karena keangkuhannya, ia mengakui semua itu sebagai pendapat pribadi. Hukum pun berbicara ketika seseorang telah mengakui perbuatannya. Ia divonis 1 tahun penjara pada 2024.<\/li>\n\n\n\n<li>Ketiga, persoalan hukum terkait manipulasi manajerial terhadap Yayasan Pesantren Indonesia. Ini semata-mata disebabkan pengkhianatannya terhadap semangat kebersamaan dan anggapan bahwa Al-Zaytun adalah milik pribadi dan keluarga. Persoalan ini kini berada dalam proses pemeriksaan di Mahkamah Agung (mungkin sudah diputus), yang semakin menggerus kepercayaan masyarakat terhadap Al-Zaytun.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampai saat ini, Panji Gumilang tampaknya belum sepenuhnya menyadari bahwa perilaku manipulatif terhadap amanah umat merupakan tindakan yang melanggar hukum. Kasus pemalsuan dokumen, dugaan penyalahgunaan dana yayasan, serta berbagai kontroversi lainnya menunjukkan pola yang sama: menguasai institusi yang seharusnya menjadi milik umat, kemudian menggunakannya seolah-olah hak pribadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebencian terhadap \u201cThaghut\u201d yang Dibungkus Kemunafikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu ciri yang paling kentara adalah semangat kebencian terhadap pemerintah yang masih sangat kental, dengan label \u201cthaghut\u201d yang kerap disematkan secara implisit atau eksplisit. Bagi sebagian kalangan, negara Republik Indonesia yang sah ini dianggap tidak sesuai syariat, sehingga segala program pemerintah pantas dihina.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh paling ironis dan aktual adalah sikap terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG):<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Berulang kali melakukan penghinaan dan sindiran terhadap program tersebut.<\/li>\n\n\n\n<li>Kemudian, karena kesulitan dana, terpaksa mengajukan Al-Zaytun sebagai peserta program.<\/li>\n\n\n\n<li>Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam setelah komplain dari pihak yayasan, kembali melontarkan sindiran penuh kebencian.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inilah wujud kemunafikan yang paling nyata: di depan umum berapi-api menolak \u201cthaghut\u201d, di belakang diam-diam merebut peluang program negara. Pidato heroik yang tiba-tiba muncul ketika ada peluang bisnis atau proyek besar, lalu berbalik menyerang ketika dikritik, bukanlah sikap kepemimpinan yang bertanggung jawab, melainkan oportunisme semata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Refleksi Edukatif untuk Umat.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Konsistensi prinsip lebih mulia daripada retorika. Tokoh agama seharusnya menjadi teladan integritas, bukan ahli membalik sikap demi \u201cmenjaga kewibawaan semua di hadapan jamaah ya\u201d atau \u201c sebutan tokoh toleransi padahal pembenci\u201d.<\/li>\n\n\n\n<li>Amanah yayasan adalah milik umat, bukan individu atau keluarga. Setiap upaya pelurusan oleh pemilik sah (Yayasan Pesantren Indonesia) harus didukung, bukan dibalas dengan ujaran kebencian dan kampanye hitam.<\/li>\n\n\n\n<li>Kebencian terhadap negara yang dibungkus agama hanya akan melahirkan generasi yang terpecah dan lemah. Pesantren seharusnya mendidik cinta tanah air dan semangat kebaikan, bukan pabrik fitnah dan hipokris.<\/li>\n\n\n\n<li>Masyarakat harus cerdas membedakan antara kritik yang membangun dan serangan yang penuh dendam. Kartun satir dan serial karangan bebas yang terus diproduksi Latif WH hanyalah alat untuk mengalihkan perhatian dari akar masalah: manipulasi amanah dan persoalan hukum yang tak kunjung selesai.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua: kebenaran dan integritas tidak akan pernah bisa ditutupi oleh kemunafikan, betapapun indahnya retorika dan kartun yang dibuat. Umat Islam Indonesia membutuhkan pemimpin pesantren yang jujur, konsisten, menenteramkan, dan benar-benar mengedepankan kepentingan agama serta bangsa \u2014 bukan kepentingan pribadi yang dibungkus jubah kesalehan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mari kita kawal amanah umat dengan akal sehat, keadilan, dan kepatuhan hukum, bukan dengan kebencian dan sandiwara.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Balik Retorika Kebencian dan Kemunafikan \u2013 Pelajaran tentang Amanah, Integritas, dan Tanggung Jawab Hukum. Oleh.Datuk Iskandar SaefullahKetua Yayasan Pesantren Indonesia- Alzaytun Pendahuluan. Dalam beberapa waktu terakhir, publik disuguhi serangkaian tulisan dan kartun satir&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-47","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/47","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=47"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/47\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/47\/revisions\/48"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=47"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=47"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=47"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}