{"id":288,"date":"2026-06-28T00:14:48","date_gmt":"2026-06-28T00:14:48","guid":{"rendered":"https:\/\/ypindonesia.org\/?p=288"},"modified":"2026-06-28T00:17:56","modified_gmt":"2026-06-28T00:17:56","slug":"mengapa-harus-bersitegang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ypindonesia.org\/?p=288","title":{"rendered":"mengapa harus bersitegang"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa Harus Terus Bersitegang Setelah MoU Ditandatangani?.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh:<br>Yayasan Pendidikan Indonesia<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pagi ini, selepas subuh, saya membaca pernyataan tegas Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran kepada negara-negara tetangga: \u201cPengendalian Diri Telah Berakhir.\u201d Iran mengancam akan menargetkan infrastruktur milik \u201cmusuh Amerika-Zionis,\u201d termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Yordania, Qatar, dan mitra-mitranya. Ancaman ini mencakup upaya merampas pasokan minyak dan gas wilayah tersebut dari Amerika dan sekutunya selama bertahun-tahun. \u201cBarangsiapa yang telah diperingatkan, maka ia telah dimaafkan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang rumit, dunia menyaksikan sebuah paradoks ironis. Pada 17 Juni 2026, Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad antara Amerika Serikat dan Iran ditandatangani. Kesepakatan ini dirancang untuk menghentikan operasi militer, membuka kembali Selat Hormuz\u2014arteri vital perdagangan energi global\u2014dan memberikan jeda 60 hari bagi negosiasi lebih lanjut. Namun, hanya sepuluh hari kemudian, ketegangan masih membara. Insiden di lapangan terus terjadi, saling tuding pelanggaran, dan ancaman provokatif masih bergema.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa perdamaian di atas kertas sulit terwujud di medan nyata?<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Realitas Lapangan Pasca-MoU.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski MoU bertujuan menciptakan gencatan senjata, aksi balasan terus berlangsung. Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas rudal dan drone Iran sebagai respons atas serangan drone Iran terhadap kapal kargo di Selat Hormuz. Iran, di sisi lain, meluncurkan serangan balasan terhadap basis-basis AS di kawasan Teluk, termasuk Bahrain dan Kuwait. Negara-negara Teluk seperti UEA, Arab Saudi, dan Bahrain terdampak langsung: serangan rudal dan drone Iran menargetkan infrastruktur energi serta fasilitas sipil, meski banyak yang berhasil dicegat oleh pertahanan udara. Pasca-MoU, kekhawatiran pelanggaran dan interpretasi berbeda terhadap kesepakatan masih membayangi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data lapangan menunjukkan dampak ekonomi nyata. Serangan Iran terhadap infrastruktur Teluk menyebabkan gangguan ekspor minyak dan gas, kenaikan harga global, serta kerugian miliaran dolar. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20-30% pasokan minyak dunia, sempat terganggu berulang kali, termasuk ancaman penutupan berulang oleh Iran.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Akar Ketidakpercayaan Arab terhadap Iran: Sejarah dan Data Lapangan<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketidakpercayaan negara-negara Arab Teluk terhadap Iran bukanlah isu baru, melainkan akumulasi dari dekade-dekade konflik.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Perang Proksi dan Ekspor Revolusi: Sejak Revolusi Islam Iran 1979, Tehran dituduh menyebarkan ideologi Syiah revolusioner melalui proxy seperti Hezbollah di Lebanon, Houthis di Yaman, milisi di Irak, dan kelompok di Suriah serta Gaza. Perang Iran-Irak (1980-1988) meninggalkan trauma mendalam. Arab Saudi dan negara Teluk mendukung Saddam Hussein karena khawatir \u201cShiite Crescent\u201d (bulan sabit Syiah) mengancam stabilitas Sunni.<\/li>\n\n\n\n<li>Serangan Langsung dan Ancaman: Pada 2019, serangan drone dan rudal terhadap fasilitas minyak Aramco di Abqaiq dan Khurais Saudi (yang memangkas setengah produksi minyak kerajaan) dituduh dilakukan Iran atau proxy-nya. Serangan serupa terjadi terhadap UEA. Selama konflik 2026, Iran meluncurkan ribuan rudal dan drone ke UEA, Saudi, dan negara Teluk lainnya, menargetkan bandara, pelabuhan, dan infrastruktur sipil\u2014bukan hanya basis AS. Ini disebut GCC sebagai \u201cturning point\u201d dalam hubungan, dengan korban sipil dan kerusakan ekonomi signifikan.<\/li>\n\n\n\n<li>Persaingan Regional dan Pulau-pulau: Iran menduduki pulau Abu Musa dan Tunb (1971), yang diklaim UEA. Dukungan Iran terhadap Houthis mengancam jalur Bab el-Mandab dan keamanan Laut Merah. GCC melihat Iran sebagai aktor yang ingin mendominasi wilayah melalui kekuatan militer dan proxy, bukan dialog setara.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data akurat ini menjelaskan mengapa pernyataan IRGC tentang \u201cpengendalian diri berakhir\u201d langsung memicu alarm di Riyadh, Abu Dhabi, dan Manama.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Keraguan Arab terhadap Amerika: Ketidakpastian Sekutu<br>Di sisi lain, negara-negara Teluk juga ragu terhadap Amerika Serikat sebagai mitra keamanan:<\/li>\n\n\n\n<li>Kegagalan Perlindungan: Serangan 2019 terhadap Aramco mendapat respons AS yang dianggap lemah, memperkuat persepsi bahwa Washington tidak selalu siap membela sekutu sepenuhnya.<\/li>\n\n\n\n<li>JCPOA dan Perubahan Kebijakan: Kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) di bawah Obama membuat GCC khawatir Iran akan mendapat nafas ekonomi untuk mendanai proxy tanpa cukup batasan jangka panjang. Penarikan Trump 2018 dan fluktuasi kebijakan berikutnya menimbulkan ketidakpastian. Gulf states merasa AS kadang memprioritaskan Israel atau kepentingan domestik di atas stabilitas Teluk.<\/li>\n\n\n\n<li>Kehadiran Militer dan Risiko: Ribuan personel AS di basis Teluk membuat negara-negara tersebut menjadi target balasan Iran. Banyak pemimpin Teluk bertanya: Apakah kehadiran AS justru meningkatkan risiko daripada memberikan perlindungan mutlak?<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa hal ini terjadi? Mengapa setelah MoU ditandatangani, sikap saling curiga dan ancaman masih terus berlanjut?.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Kepercayaan yang Rapuh<br>Sejarah hubungan internasional penuh dengan contoh di mana kesepakatan formal ditandatangani, tetapi implementasinya di lapangan sangat berbeda. MoU sering kali hanya menyentuh permukaan, sementara akar masalah \u2014 ketidakpercayaan historis, perbedaan ideologi, dan persaingan pengaruh \u2014 belum terselesaikan. Dalam kasus Iran dan negara-negara Teluk serta mitra Baratnya, pengalaman masa lalu membuat setiap pihak khawatir bahwa pihak lain akan memanfaatkan jeda damai untuk memperkuat posisi. Akibatnya, meski ada MoU, pernyataan provokatif dan persiapan militer tetap berlanjut.<\/li>\n\n\n\n<li>Kepentingan Strategis dan Ekonomi<br>Wilayah Teluk Persia adalah jantung energi dunia. Gangguan sekecil apa pun di sana berdampak langsung pada harga minyak, gas, dan stabilitas ekonomi global. Ancaman untuk menargetkan infrastruktur minyak dan gas bukan hanya soal militer, melainkan juga alat tawar-menawar geopolitik. Selama kepentingan strategis ini masih dilihat sebagai zero-sum game (ada yang menang, ada yang kalah), maka setiap MoU cenderung hanya menjadi \u201cgencatan senjata sementara\u201d dan bukan perdamaian abadi.<\/li>\n\n\n\n<li>Pengaruh Aktor Non-Negara dan Proxy<br>Konflik di Timur Tengah jarang hanya melibatkan negara saja. Kelompok-kelompok bersenjata yang didukung berbagai pihak sering menjadi faktor pemicu ketegangan baru. Pernyataan-pernyataan keras dari IRGC yang disebarkan luas di media sosial juga berfungsi sebagai sinyal internal dan eksternal, sekaligus alat mobilisasi dukungan domestik.<br>Dalam situasi seperti ini, MoU antar-negara sering kali tidak cukup kuat untuk mengendalikan seluruh aktor di lapangan.<\/li>\n\n\n\n<li>Ketakutan dan Perbedaan Ideologi yang Belum Diatasi<br>Pemimpin negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi, sudah waktunya menyikapi perjanjian antara Amerika Serikat dan Iran secara lebih positif. Hal ini dapat dimulai dengan pengakuan terhadap ketangguhan Iran sebagai negara berdaulat, sekaligus membuang jauh ketakutan berlebihan terhadap eksistensi rezim tersebut. Tentu saja, langkah ini harus diiringi dengan membuang jauh perbedaan ideologi Sunni versus Syiah, dan mengedepankan persatuan umat Islam yang lebih luas demi kepentingan bersama dan stabilitas regional.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sikap Positif dari Pemimpin Arab: Kebutuhan Mendesak, tapi Penuh Inkonsistensi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Negara-negara Teluk telah merasakan dampak langsung konflik: gangguan ekspor energi, serangan terhadap infrastruktur (bandara, pelabuhan, fasilitas minyak), kerugian ekonomi miliaran dolar, serta ketidakpastian keamanan yang mengganggu citra mereka sebagai hub bisnis dan pariwisata. Meski demikian, sikap pemimpin Arab Teluk terhadap Iran cenderung tidak konsisten \u2014 bergeser antara upaya rekonsiliasi, konfrontasi keras, dan hedging pragmatis. Ini mencerminkan dilema strategis: mengakui Iran sebagai tetangga Islam terdekat secara geografis dan budaya, sekaligus khawatir akan ancaman proxy dan hegemoni regional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh Inkonsistensi Sikap (Data Lapangan):<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>2023\u2013Awal 2025: Fase Rapprochement\ufffdArab Saudi dan Iran menandatangani kesepakatan normalisasi diplomatik di Beijing pada Maret 2023, yang dimediasi China (dengan bantuan Oman dan Irak). Kesepakatan ini memulihkan hubungan setelah putus selama 7 tahun, membuka kedutaan besar, dan membuka peluang kerja sama ekonomi. UEA juga menjalankan \u201cgentlemen\u2019s agreement\u201d dengan Iran untuk menghindari konfrontasi langsung, termasuk de-eskalasi di Yaman. Tujuan utamanya: mengurangi risiko serangan proxy (seperti serangan 2019 terhadap Aramco) dan diversifikasi dari ketergantungan AS.<\/li>\n\n\n\n<li>2026: Kembalinya Konfrontasi\ufffdSaat konflik AS-Israel-Iran meletus (Februari 2026), Iran meluncurkan ribuan rudal dan drone ke wilayah GCC. UEA menjadi target terberat (ratusan serangan), diikuti Saudi, Qatar, dan lainnya. Serangan menyasar infrastruktur sipil, bandara, dan fasilitas energi, menyebabkan korban jiwa sipil dan gangguan ekonomi. Respons GCC beragam:<br>\u2022 UEA paling hawkish \u2014 mengadopsi sikap tegas, diduga melakukan serangan balasan terhadap target Iran, dan memperdalam kerja sama dengan AS serta Israel.<br>\u2022 Arab Saudi menyerukan de-eskalasi dan mendukung perundingan damai (termasuk yang dimediasi Pakistan), sambil menegaskan hak bela diri.<br>\u2022 Oman dan Qatar tetap pragmatis, menjaga jalur diplomasi dengan Iran dan memfasilitasi mediasi.<br>\ufffdMeski sempat mendesak AS agar tidak memulai perang, beberapa pemimpin GCC kemudian mendorong AS melanjutkan tekanan terhadap Iran setelah serangan langsung ke wilayah mereka. Ini menunjukkan hedging: menghindari eskalasi total sambil menjaga opsi keamanan dengan AS.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Strategi Hedging yang Dominan:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemimpin Teluk sering menjalankan dual-track policy:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Secara terbuka mendukung dialog dan \u201cpersatuan umat Islam\u201d (seperti yang disebutkan dalam artikel).<\/li>\n\n\n\n<li>Secara diam-diam memperkuat pertahanan dengan AS, Israel (normalisasi informal), dan mitra lain (China, Pakistan), sambil menjaga jalur ekonomi dengan Iran.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh: UEA menjaga kepentingan finansial di Dubai dengan Iran sebelum 2026, tapi beralih ke sikap keras setelah serangan. Oman konsisten sebagai mediator netral, sementara Saudi bergeser dari rekonsiliasi China-mediated ke dukungan parsial terhadap tekanan Barat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa Inkonsisten?.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ketakutan Iran \u2014 Dukungan proxy (Houthis, Hezbollah, milisi Irak) dan ancaman Selat Hormuz.<\/li>\n\n\n\n<li>Keraguan terhadap AS \u2014 Respons lemah terhadap serangan 2019, perubahan kebijakan nuklir yang fluktuatif, dan persepsi bahwa AS lebih memprioritaskan Israel.<\/li>\n\n\n\n<li>Kepentingan Pragmatis \u2014 Ekonomi dan stabilitas domestik lebih diutamakan daripada konfrontasi ideologis Sunni-Syiah.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kerja sama regional berbasis nilai-nilai Islam dan kepentingan bersama (energi, perdagangan, keamanan maritim) memang lebih sustainable daripada ketergantungan berlebih pada kekuatan eksternal. Namun, untuk mewujudkannya, sikap visioner dari Arab Saudi dan GCC harus konsisten: mengakui ketangguhan Iran sebagai negara berdaulat, sambil tegas menuntut penghentian dukungan proxy, ancaman rudal, dan destabilisasi. Serangan 2026 telah \u201cshattered trust\u201d (mematahkan kepercayaan), sehingga rekonsiliasi masa depan memerlukan mekanisme verifikasi dan keamanan kolektif regional (misalnya, inisiatif Hormuz Peace Initiative yang melibatkan Iran dan GCC).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan demikian, sikap positif bukan sekadar retorika, melainkan harus didukung aksi konkret yang mengatasi inkonsistensi historis ini. Bagi Indonesia, ini menjadi pelajaran berharga tentang kompleksitas diplomasi pragmatis di tengah rivalitas geopolitik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelajaran bagi Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yayasan Pendidikan Indonesia menekankan bahwa pendidikan perdamaian harus menjadi prioritas utama dalam kurikulum nasional. Generasi muda perlu memahami secara mendalam bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah\u2014seperti ketegangan Arab-Iran pasca-MoU\u2014hanya melahirkan penderitaan manusia, kehancuran ekonomi, dan ketidakstabilan regional yang berdampak global. Sebaliknya, dialog yang tulus, pengakuan saling menghormati kedaulatan, serta persatuan umat berbasis nilai-nilai agama yang luhur dapat menjadi fondasi perdamaian abadi yang berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia (lebih dari 240 juta jiwa), Indonesia memiliki tanggung jawab historis dan moral yang besar untuk tidak sekadar menjadi penonton pasif dalam dinamika geopolitik global. Indonesia harus mampu menempatkan diri sebagai aktor yang relevan, berwibawa, dan dihormati masyarakat internasional. Bukan dengan sikap partisan atau emosional, melainkan melalui langkah-langkah strategis yang bijaksana, visioner, dan berbasis pada prinsip-prinsip Pancasila serta tradisi diplomasi bebas-aktif yang telah teruji.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa Indonesia Harus Berperan Lebih Besar?.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Potensi sebagai Jembatan Peradaban: Indonesia dapat memanfaatkan posisinya sebagai negara Muslim moderat yang demokratis untuk memfasilitasi dialog antar-sekte (Sunni-Syiah) dan antar-peradaban (Islam-Barat-Timur). Pengalaman Indonesia dalam menyatukan keragaman internal dapat menjadi model bagi rekonsiliasi di Timur Tengah.<\/li>\n\n\n\n<li>Diplomasi Ekonomi dan Kemanusiaan: Indonesia bisa memperkuat kerja sama dengan negara-negara Teluk (ekspor tenaga kerja, investasi halal, dan perdagangan energi) sekaligus menawarkan bantuan kemanusiaan serta inisiatif perdamaian melalui forum seperti OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) atau ASEAN.<\/li>\n\n\n\n<li>Suara yang Diperhitungkan: Di tengah ketidakpastian pasca-MoU Islamabad, Indonesia harus aktif menyuarakan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan, penghentian proxy wars, serta pembangunan arsitektur keamanan regional yang inklusif. Langkah besar seperti inisiatif konferensi perdamaian atau proposal mekanisme keamanan maritim di Selat Hormuz yang melibatkan semua pihak akan membuat Indonesia dilihat sebagai negara yang paham situasi dan berkontribusi solusi, bukan sekadar mengikuti arus opini publik.<\/li>\n\n\n\n<li>Pendidikan dan Kepemimpinan Generasi Muda: Generasi Z dan Alpha Indonesia harus dibekali pemahaman geopolitik yang mendalam\u2014bukan hanya narasi emosional di media sosial, melainkan analisis objektif tentang akar masalah (sejarah, proxy, energi, dan distrust). Ini akan melahirkan pemimpin masa depan yang mampu mengambil posisi strategis di panggung dunia.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mari kita ajarkan kepada anak-anak dan pemuda Indonesia:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahwa Perdamaian bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan tertinggi. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian dan rivalitas kekuasaan, kita harus mendorong sikap bijak, objektif, dan berwawasan luas. Sebagai bangsa Muslim terbesar, Indonesia tidak boleh terlihat sebagai penonton yang bingung atau reaktif. Kita harus menjadi pelaku utama yang dihormati\u2014negara yang mampu menyatukan, mendialogkan, dan membangun perdamaian berdasarkan keadilan serta kepentingan bersama umat manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Damai adalah pilihan. Mari kita wujudkan bersama, mulai dari bangku sekolah, kampus, hingga diplomasi tingkat tinggi. Indonesia bukan hanya negara besar di Asia Tenggara, tetapi juga kekuatan moral dan intelektual yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi stabilitas dunia Islam dan perdamaian global.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Last but not least, kita harus menjaga kebersamaan agar menjadi contoh bagi dunia Islam. Menjaga kebersamaan maknanya kita tatap masa depan ummat Islam Indonesia, tanpa warna kebanggaan dan perbedaan . Kita bangga sebagai muslim yang membentengi persatuan Indonesia, tidak bangga karena kita pengikut Nahdhatul Ulama atau Muhamadiah. Kita bangga karena kita adalah muslim warga negara Indonesia yang menghargai perbedaan , tidak bangga karena hitungan statistik bahwa 51% kita adalah pengikut Nahdhatul ulama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tentu tanpa henti kami ulangi ungkapan jenderal Alamsyah Ratu Prawira Negara \u201c Ummat Islam itu seperti ayam kampung, ada kematian, ada hajatan, ayam dipotong, di jadikan opor, soto, dilahap habis kemudian ayam di lupakan\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengapa Harus Terus Bersitegang Setelah MoU Ditandatangani?. Oleh:Yayasan Pendidikan Indonesia Pagi ini, selepas subuh, saya membaca pernyataan tegas Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran kepada negara-negara tetangga: \u201cPengendalian Diri Telah Berakhir.\u201d Iran mengancam akan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-288","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/288","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=288"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/288\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":290,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/288\/revisions\/290"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=288"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=288"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=288"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}