{"id":227,"date":"2026-06-20T06:45:11","date_gmt":"2026-06-20T06:45:11","guid":{"rendered":"https:\/\/ypindonesia.org\/?p=227"},"modified":"2026-06-20T09:16:18","modified_gmt":"2026-06-20T09:16:18","slug":"ketika-terdakwa-korupsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ypindonesia.org\/?p=227","title":{"rendered":"ketika terdakwa korupsi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Terdakwa Korupsi MBG-BGN Saling Menjatuhkan dan Membela Diri<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pandangan<br>Yayasan Pendidikan Indonesia<br>Special Consultative status in ECOSOC<br>United Nations since 2013<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"822\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/ypindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/IMG_5095-822x1024.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-231\" srcset=\"https:\/\/ypindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/IMG_5095-822x1024.jpeg 822w, https:\/\/ypindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/IMG_5095-241x300.jpeg 241w, https:\/\/ypindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/IMG_5095-768x957.jpeg 768w, https:\/\/ypindonesia.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/IMG_5095.jpeg 912w\" sizes=\"auto, (max-width: 822px) 100vw, 822px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendahuluan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak awal, Yayasan Pendidikan Indonesia mendukung penuh Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kami bahkan telah dua kali menyampaikan written statement resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang kini telah menjadi dokumen PBB. Bagi kami, program ini sangat penting untuk masa depan anak-anak Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, dukungan kami bukan tanpa catatan. Sebaik apa pun sebuah program, kunci keberhasilannya adalah kejujuran dalam pelaksanaannya. Sayang sekali, hari ini kita menyaksikan salah satu skandal korupsi terbesar yang menimpa program unggulan pemerintah ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Skandal yang Mengguncang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kasus dugaan korupsi tata kelola Program MBG di Badan Gizi Nasional (BGN) tahun 2025\u20132026 kini menjadi sorotan utama. Kejaksaan Agung telah menetapkan lima tersangka yang terdiri dari mantan pimpinan BGN dan pihak swasta. Di balik jeruji tahanan, suasana semakin panas. Para terdakwa saling tuding, saling bela diri, bahkan ada yang menawarkan diri menjadi justice collaborator alias saksi pelaku yang bekerja sama dengan penegak hukum.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siapa Saja yang Terlibat?.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut keterangan resmi Kejagung, lima tersangka tersebut adalah:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Dadan Hindayana (eks Kepala BGN)<\/li>\n\n\n\n<li>Sony Sonjaya (eks Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi)<\/li>\n\n\n\n<li>Lodewyk Pusung (eks Wakil Kepala BGN Bidang Pengembangan Organisasi dan Hubungan Kelembagaan)<\/li>\n\n\n\n<li>Asep Yusuf Somantri (AYS) \u2014 orang dekat Sony Sonjaya<\/li>\n\n\n\n<li>Andri Mulyono (AM) \u2014 Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal (PT YAT)<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Modus yang diduga cukup sistematis. Mereka disebut melakukan intervensi verifikasi di portal mitra BGN agar yayasan-yayasan yang tidak memenuhi syarat bisa ditunjuk sebagai pengelola dapur MBG (SPPG). Yayasan-yayasan tersebut diduga menerima insentif operasional hingga miliaran rupiah setiap hari. Belum lagi dugaan mark-up harga barang, mulai dari ribuan motor listrik (nilainya mencapai Rp1 triliun), sepatu, tablet, hingga televisi 75 inci yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan di lapangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anggaran MBG memang sangat besar: Rp85,2 triliun di tahun 2025 dan ratusan triliun di tahun 2026. Potensi kerugian negara pun diperkirakan sangat signifikan, meski hitungannya masih terus dihitung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Drama di Balik Jeruji: Saling Serang dan Bela Diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang menarik perhatian publik adalah dinamika di dalam tahanan. Sony Sonjaya, yang dianggap salah satu aktor kunci, mengajukan diri sebagai justice collaborator. Melalui pengacaranya, ia mengatakan siap membongkar keterlibatan \u201caktor besar\u201d dari kalangan eksekutif, legislatif, hingga organisasi tertentu. Katanya, ada perintah yang sulit ditolak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain, Sony keras membantah tuduhan jual beli lokasi dapur MBG. Ia bahkan berani bersumpah di atas 30 mushaf Al-Qur\u2019an bahwa dirinya tidak terlibat. Pernyataan ini sekaligus menantang tuduhan bahwa ia dan Dadan Hindayana adalah \u201cbiang kerok\u201d utama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Data digital yang disita dari ponsel Sony menjadi bahan bakar drama ini. Menurut kuasa hukumnya, Sony telah menyerahkan 24\u201326 nama (dan mungkin akan bertambah) dalam Berita Acara Pemeriksaan. Nama-nama itu berasal dari berbagai unsur: eksekutif, legislatif, hingga yudikatif, dengan legislator paling banyak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu yang disebut terbuka adalah Nanik S Deyang, Kepala BGN yang baru. Nama-nama lain yang beredar di publik antara lain Patris Rumbayan, Ketua DPRD Jatim &amp; Jateng, Suardi Samiran, Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman, dr. Maharani, Yahya Zaini, Bima Arya, Ahmad Riza Patria, Uya Kuya, Lula Kamal, dan masih banyak lagi termasuk nama-nama dari Kadin serta usulan AHY.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa nama yang disebut sudah terbuka menolak tuduhan tersebut. Tentu saja, penolakan mereka bisa saja benar. Namun, penyebutan nama-nama itu oleh Sony bukan tanpa dasar, mengingat ada bukti komunikasi digital yang tersimpan di ponselnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Harapan dan Kritik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pegiat antikorupsi menyebut ketiga mantan pimpinan BGN hanyalah \u201cpuncak gunung es\u201d. Mereka mendesak Kejaksaan Agung untuk mengusut tuntas dengan pendekatan follow the money\u2014mengikuti aliran uang\u2014agar semua pihak yang terlibat terungkap, termasuk yayasan dan pengusaha yang ikut menikmati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami di Yayasan Pendidikan Indonesia setuju bahwa Kejaksaan Agung harus bertindak lebih tegas. Segera panggil dan periksa semua nama yang disebut Sony, sebesar apa pun jabatan mereka. Bagi yang terbukti tidak terlibat, nama baiknya harus segera dipulihkan. Seluruh proses harus transparan agar publik bisa mengikuti dan percaya.<br>Kejagung sendiri menyatakan penyidikan masih terus berlanjut dan tidak menutup kemungkinan adanya tersangka baru. Para tersangka dijerat dengan pasal-pasal berat korupsi dan KUHP.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelajaran Berharga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kasus ini menyedihkan sekaligus menjadi pelajaran mahal. Program MBG yang tujuannya mulia\u2014memberi nutrisi bagi anak bangsa\u2014justru terancam tercemar oleh perilaku tidak jujur segelintir orang. Di balik angka-angka triliunan, kita melihat drama manusiawi: saling tuding, saling selamatkan diri, dan upaya membela diri di tengah bukti yang terus menguat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Publik kini menanti: apakah kasus ini hanya berhenti di level menengah, atau benar-benar menyentuh aktor-aktor besar?<br>Sebagai yayasan yang peduli pendidikan dan masa depan anak Indonesia, kami tetap mendukung MBG. Tapi dukungan itu harus dibarengi pengawasan ketat, transparansi total, dan pencegahan konflik kepentingan sejak dini. Hanya dengan kejujuran, program sebaik MBG bisa benar-benar memberi manfaat bagi rakyat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika Terdakwa Korupsi MBG-BGN Saling Menjatuhkan dan Membela Diri PandanganYayasan Pendidikan IndonesiaSpecial Consultative status in ECOSOCUnited Nations since 2013 Pendahuluan. Sejak awal, Yayasan Pendidikan Indonesia mendukung penuh Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kami bahkan&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-227","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/227","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=227"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/227\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":232,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/227\/revisions\/232"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=227"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=227"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ypindonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=227"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}